BREAKING NEWS >> Selamat Menjalankan Ibadah Puasa Ramadhan 1438 H - 2017 M

26.4.17

Yenny, Sang Guru Bahasa Indonesia

Ketika kecil, Yenny Herawati bercita-cita menjadi sekretaris. Tapi ketika besar, perempuan kelahiran Medan ini malah menjadi guru Bahasa Indonesia di SMP Negeri 2 Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar, Aceh. "Mengajar itu sangat menyenangkan," katanya.

Awalnya kata Yenny -begitu kerap dia disapa- mengajar Bahasa Indonesia di SMP Negeri 2 Darul Imarah ini cukup sulit. Karena umumnya, para siswa tak begitu mau berbahasa Indonesia. Mereka lebih sering menggunakan bahasa daerah. Tapi sebagai seorang guru, Yenny pantang menyerah. Pelan-pelan  Yenny berusaha mempelajari bahasa Aceh, sehingga meski tidak terlalu fasih, Yenny dapat berkomunikasi dalam bahasa daerah dengan para anak didiknya- yang umumnya merupakan anak petani . Sampai pada akhirnya, Yenny bukan saja berkomunikasi dalam urusan mengajar, Yenny juga sering mengobrol dengan para siswanya mengenai hal-hal lain di luar bidang studi yang diajarkannya.

Yenny bersama buah hatinya. Foto: Dok.Pribadi
"Saya suka mengobrol dengan siswa-siswa saya. Mereka polos-polos. Jauh dari prasangka. Saya jadi suka mengobrol apa saja dengan mereka," ungkapnya. Mengobrol tentang hal apa saja dengan siswanya membuat ibu dua anak ini merasa lebih dekat dan lebih mengenal siswa-siswanya.  "Jadi tambah sayang ke mereka. Karena komunikasi yang kami bangun bersama. Saya berusaha memahami mereka," lanjut Yenny yang hijrah ke Aceh sejak tahun 2000 mengikuti tugas sang suami yang seorang tentara.

Tapi tantangan Yenny sebagai guru di Aceh tak hanya sampai di situ. Kondisi Aceh pascakonflik dan tsunami sedikit banyak mempengaruhi kondisi belajar mengajar. Tapi akhirnya, tantangan demi tantangan yang datang silih berganti dapat dilalui dan diatasi dengan baik oleh perempuan yang lahir pada 23 Juni 1974 ini.

"Saya mencintai profesi ini. Jadi saya jalani dengan ikhlas dan tawakkal. Karena semua persoalan pasti ada jalan keluarnya. Mudah-mudahan dari apa yang saya lakukan sekarang, tidak hanya anak dan kelaurga saya saja yang sukses. Tetapi juga anak-anak didik saya," harapnya.

Kini, setelah belasan tahun menjadi guru, tidak ada kesulitan yang cukup berarti buat Yenny dalam mengatur waktu. Keluarga baginya tetap nomor satu. Sebelum berangkat, Yenny menyempatkan diri memasak dan usai mengajar dirinya akan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah yang belum selesai dilakukannya pada pagi hari.

"Meski saya seorang guru. Saya juga seorang isteri dan ibu bagi anak-anak saya. Kalau di sekolah anak saya ada 50-an. Di rumah hanya dua, Tidak mudah memang membagi waktu. Tapi sepanjang kita mencintai profesi kita, apapun itu, mudah-mudahan semuanya dapat kita jalani," katanya sembari menutup pembicaraan.

Sukses ya bu guru :)


Tidak ada komentar: