Diceritakan perempuan yang disapa Yuyun ini, dirinya mulai hijrah ke Banda Aceh ketika melanjutkan studi di perguruan tinggi. Di tanah rencong inilah kemudian perempuan kelahiran Lhoksukon, Aceh Utara pada 2 Juni 1974 ini bertemu jodohnya- yang juga kebetulan orang Medan.
![]() |
| Yuyun bersama suami dan anaknya. Foto.Dok.Pribadi |
Pascareformasi dan menjelang awal tahun 2000, konflik vertikal di Aceh kembali memanas. "Tapi karena rezeki kami di Aceh ini, kami tetap tinggal di Aceh meski situasi sangat tidak menentu. Sampai anakku sudah tahu kalau dengar suara tembakan senjata harus tiarap," kenang Yuyun. Hari demi hari dijalani sampai akhirnya situasi pelan-pelan mulai membaik. Bahkan dengan rezeki yang ada, Yuyun dan suami mulai membangun rumah di Banda Aceh. Di rumah mereka, Yuyun bersama suami dan dua anaknya menjalani hari-hari yang membahagiakan.
Sampai di suatu Minggu pagi, 26 Desember 2004, gempa berkekuatan 9,1 SR mengguncang Banda Aceh.
"Ketika itu aku baru membuat sarapan untuk anak-anak. Setelah gempa tidak berapa lama air laut menerjang kawasan tempat kami tinggal. Aku dan anak sulungku terlempar diterjang air. Sedangkan anak bungsuku digendong suamiku, mereka tergulung air," kisah Yuyun.
Yuyun dan suaminya sempat terpisah. Dan ketika mereka bertemu, si bungsu sudah tidak ada lagi dalam gendongan suami. "Kami sudah mencari kemana-mana. Tapi tidak ketemu juga. Suamiku bahkan sempat menjadi sukarelawan agar tetap dapat mencari anak kami. Sementara aku untuk sementara pindah ke Medan dengan si sulung," ujarnya.
Tapi pengalaman becana alam yang maha dahsyat tak membuat Yuyun trauma akan tanah kelahiran anak-anaknya itu. Dengan tekad bulat setelah wara wiri dua tahun Medan-Banda Aceh, Yuyun kembali menetap di Banda Aceh. Selain mendampingi suami yang bertugas, Yuyun dan suami kembali membangun rumah di lokasi yang sama dengan rumah yang pernah diratakan gelombang tsunami. "Kami mendapat rumah bantuan. Jadi kami kembali ke lokasi rumah semula. Rumah yang diterjang tsunami. Dan tak lama setelah itu, kami bertemu dengan keluarga yang pernah menjadi tetangga sewaktu sebelum tsunami," lanjutnya.
Dari cerita tetangganya inilah akhirnya Yuyun dan suaminya tahu kalau anak bungsu mereka sudah tiada sesaat setelah tsunami melanda Aceh."Tapi karena waktu itu suasana sangat kacau, mereka tidak tahu menghubungi kami kemana. Jadi jenazah si bungsu dibawa ke kuburan massal. Tapi akhirnya kami sudah tahu, dan sudah benar-benar ikhlas," katanya.
Terjun Ke Dunia Pendidikan
Gelombang tsunami boleh saja merengut anak bungsu Yuyun, tapi tidak dengan semangatnya. Tsunami telah membuka banyak jalan bagi mereka yang mau berusaha. Di sela-sela mengurus si sulung, Yuyun kemudian terlibat dalam proses belajar mengajar di salah satu palang merah internasional yang mengelola Taman Kanak-kanak bagi anak-anak pekerja asing- yang banyak tinggal di Aceh pascatsunami. Inilah awal mula Yuyun berkecimpung di dunia pendidikan. Dengan dukungan penuh keluarganya,Yuyun kembali ke bangku kuliah dengan mengambil jurusan pendidikan untuk menambah ilmunya.
![]() |
| Aktifitas Yuyun bersama anak didiknya. Foto.Dok.Pribadi |
"Dengan mengajar , aku merasa bisa menyalurkan kasih sayangku buat anak-anak. Saat ini sedikitnya ada 96 anak-anak dengan lima belas orang guru. Satu guru untuk lima anak. Awalnya sekolah ini dimulai dengan tiga orang murid dan tiga orang guru. Alhamdulillah, teman-teman yang membantuku luar biasa sekali. Aku punya teman-teman yang hebat. Lebih dari enam bulan kami kelola sekolah dengan tidak ada gaji sampai akhirnya seperti sekarang ini," terang Yuyun.
![]() |
| Yuyun di depan sekolah yang didirikannya. Foto.Dok Pribadi |
Sukses ya bu!



Tidak ada komentar:
Posting Komentar