BREAKING NEWS >> Selamat Menjalankan Ibadah Puasa Ramadhan 1438 H - 2017 M

16.5.17

Rumah Baca Akar Gunung Sindur, Bogor

Mengajar Sembari Menumbuhkan Minat Baca Anak


Damronih sedang mengajar Bahasa Arab.
Foto.Dok Rumah Baca Akar
Berbekal ilmu yang dipunya, pasangan suami isteri Endang Nurfitri Surbakti, S.Ag, 40 tahun dan Damronih, Lc, 45 tahun, mengajar anak-anak di kampungnya. Sedikitnya, ada 50 anak usia TK dan SD yang mereka ajari saban habis Magrib- di teras rumah mereka yang berukuran sekitar 200 meter persegi. Dan untuk semua kesibukan ini, tak ada biaya yang dipungut oleh pasangan suami isteri ini- semua keperluan keluar dari kantong mereka sendiri.


“Tidak hanya mengajar membaca iqra, juzamma dan Quran saja yang kami lakukan. Tapi kami juga mengajar bahasa Arab, tajwid, fiqih, tauhid, kaligrafi dan beberapa ilmu agama lainnya. Khusus Kamis malam kami membaca Yasin dan shalawat,” ujar Damronih yang sehari-hari menjadi guru honorer SMA untuk bidang studi Tafsir Alquran di Pondok Pesantren Darul Kholidin, Bogor. Damronih sendiri merupakan alumni Fakultas Syariah dari Damascus University di Syria.  

Endang di tengah-tengah muridnya di Rumah Baca Akar
Foto Dok IA SMPN6 90
Awal mula kegiatan mengajar ini kata Damronih, hanya diikuti beberapa keponakannya yang belajar mengaji Quran padanya. Tapi makin hari, makin banyak murid yang bergabung. Akhirnya, Damronih dan isterinya, Endang, berbagi peran. Damronih mengajar murid-murid pria dan Endang mengajar murid-murid perempuan. Endang tak kesulitan dalam melakukan tugas tambahan di rumahnya ini. Karena sehari-hari ibu dua anak ini juga menjadi guru agama Islam di SD Negeri 01 Gunung Sindur, Bogor.

“Kami senang bisa berbagi ilmu kami pada anak-anak di sekitar kampung ini. Apalagi banyak anak yatm dan anak putus sekolah. Saat ini, ada tujuh anak yatim yang ikut belajar dengan kami,” aku Endang yang merupakan alumni dari Fakultas Tarbiyah IAIN Sumatera Utara.

Dunia Literasi

Anak-anak di Rumah Baca Akar. Foto.Dok IASMPN6 90
Dengan bertambahnya para anak murid, Endang dan Damronih mulai mengeluarkan buku-buku koleksi mereka. Jadilah ruang teras mereka tidak hanya menjadi ruang kelas pada malam hari. Sepanjang hari teras mereka menjadi perpustakaan terbuka buat siapa saja yang mau membaca.

“Tapi karena keterbatasan koleksi buku kami, tidak semua anak-anak dapat diakomodir keinginan membacanya. Maklumlah, buku-buku koleksi kami kebanyakan buku-buku untuk anak mahasiswa. Sebagian buku berbahasa arab pula,” katanya.

Ketua IA SMPN6 Medan Angkatan 90
Hamzah Lubis, menyerahkan secara simbolis
Iqra dan Quran pada salah
satu murid di Rumah Baca Akar, 13 Mei 2017
Meski dana terbatas, Endang dan Damronih tak berputus asa. Mereka terus menambah jaringan pertemanan untuk mendapatkan donatur bagi koleksi perpustakaan yang kemudian diberi nama ‘Rumah Baca Akar’. Lewat beberapa donatur dan juga jaringan literasi, mereka mendapatkan tambahan koleksi buku.

“Salah satu yang membantu kami Black House Library. Dari mereka kami mendapat beberapa jaringan. Seperti akhirnya ketemu dengan teman-teman dari alumni SMP Negeri 6 Medan angkatan 90 ini. Alhamdulillah kami dipertemukan dengan kakak-kakak dan abang-abang asal SMP Negeri 6 Medan ini, sehingga terpenuhi sebagian kebutuhan kami seperti Iqra dan Quran juga buku bacaan anak-anak,” ujarnya.

Mereka juga mengucapkan terimakasih untuk bantuan sembako dan baju bekas layak pakai yang turut disumbangkan alumni SMP N 6 Medan angkatan 90. “Sembakonya akan menjadi bekal untuk kebutuhan pesantren kilat Ramadhan anak-anak nanti. Terimakasih.”

Anak-anak Rumah Baca Akar. Foto Dok Rumah Baca Akar
Impian Damronih dan Endang tak hanya sampai di situ saja. Mereka terus berusaha agar anak-anak yang mereka bina saat ini mendapat tambahan ilmu lebih banyak lagi. 

“Untuk itu kami tak bisa bekerja sendirian. Dibutuhkan bantuan dan dukungan dari banyak pihak. Semoga nantinya bertambah banyak pihak yang mau membantu kami mewujudkan impian kami ini, agar anak-anak yang ada di sekitar kampung ini mendapat pengetahuan yang sama seperti anak-anak lain di luar sana, yang dimudahkan aksesnya pada dunia pendidikan,” harap mereka berdua.

Rumah Baca Akar Gunung Sindur terletak di, Kampung Cimangir RT001 RW005, Gunung Sindur, Bogor. Kawasan ini terletak sekitar 25 kilometer dari Kota Bogor.

Rumah Baca Akar Gunung Sindur
di Kampung Cimangir
RT001 RW005, Gunung Sindur, Bogor.
Kawasan ini terletak sekitar 28 kilometer dari Kota Bogor.
Foto.DOK IA SMPN6 90



15.5.17

Ayub, Pebisnis Batu-batu Mulia di Jakarta

Ayub di tokonya di Jatinegara. Foto.Dok Pribadi
Sayubdin atau di grup whatsapp alumni SMP Negeri 6 Medan Angkatan 90 dikenal dengan nama Ayub adalah seorang pebisnis batu-batu mulia di Jakarta. Usaha ini ditekuninya sejak 1997 silam-setelah menikah dan memutuskan hijrah ke Jakarta. “Saya mulai dengan mengelola usaha keluarga. Batu-batu mulia yang kami jual beli berasal dari dalam negeri dan juga dari luar negeri. Untuk kepastian keaslian satu batu, kami menggunakan sertifikat keaslian,” katanya memulai cerita.

Sebenarnya Ayub bercita-cita menjadi tentara. Tapi darah bisnis yang mengalir di tubuhnya lebih banyak. Ayahnya seorang pedagang alat-alat olahraga di kawasan Kesawan Medan. Tak heran jika Ayub sudah sangat dekat dengan dunia bisnis sejak kecil.
Yellow Safir asal Srilangka. Foto Dok.pribadi
“Awalnya tertarik di bisnis ini karena mertua memiliki usaha di bidang batu-batu mulia juga. Jadi saya pikir kenapa juga tidak terjun ke bidang tersebut. Dan sekarang alhamdulillah sudah mengelola usaha sendiri,” ujar bapak tiga anak yang kini mengelola dua toko di kawasan Jatinegara, Jakarta Timur.

Batu-batu mulia yang dijual Ayub sangat beragam. Mulai dari batu-batu asal Indonesia seperti kecubung dan mutiara, sampai batu zamrud dari Colombia. Ada juga cat eyes, blue safir, dan yellow safir dari Srilanka, rubi pinkis dari Tanzania, sampai batu turmalin dari Afganistan. Batu-batu mulia ini harganya variatif, tergantung tingkat keunikan masing-masing batu. Mulai dari ratusan ribu sampai miliaran rupiah.  

Mutiara asal Lombok. Foto.Dok Pribadi
Sejauh ini pasar batu-batu mulia Ayub tersebar di kawasan Sumatera, Jawa, Kalimantan, Lombok dan juga beberapa daerah lainnya, selain Jakarta tentunya.

Menjaga Kepercayaan

Dalam bisnis batu-batu mulia ini menurut Ayub, kepercayaan merupakan jurus nomor satu dari semua jurus dagang. Pasalnya, kadang-kadang ada batu titipan teman yang minta dijualkan. Selain itu juga, kejujuran kepada para konsumen tentang kondisi dan identitas batu sangatlah penting.

“Untuk membedakan mana batu asli dan tidak asli atau yang lebih sering dikenal dengan nama kw sangat sulit saat ini. Karena Thailand sangat maju dalam pembuatan batu-batu sintetis. Karena itu, untuk batu-batu mulia di toko kami, dilampiri dengan sertifikat keaslian yang dikeluarkan lembaga resmi,” tuturnya.

Ayo, siapa yang ingin berbisnis batu-batu mulia, bisa berkunjung dan menghubungi Ayub.

Sukses ya pak!