20.5.17
16.5.17
Rumah Baca Akar Gunung Sindur, Bogor
Mengajar Sembari Menumbuhkan Minat Baca Anak
![]() |
| Damronih sedang mengajar Bahasa Arab. Foto.Dok Rumah Baca Akar |
Berbekal ilmu yang dipunya, pasangan suami isteri Endang Nurfitri Surbakti, S.Ag, 40 tahun dan Damronih, Lc, 45 tahun, mengajar anak-anak di kampungnya. Sedikitnya, ada 50 anak usia TK dan SD yang mereka ajari saban habis Magrib- di teras rumah mereka yang berukuran sekitar 200 meter persegi. Dan untuk semua kesibukan ini, tak ada biaya yang dipungut oleh pasangan suami isteri ini- semua keperluan keluar dari kantong mereka sendiri.
“Tidak hanya mengajar membaca iqra, juzamma dan Quran saja yang kami lakukan. Tapi kami juga mengajar bahasa Arab, tajwid, fiqih, tauhid, kaligrafi dan beberapa ilmu agama lainnya. Khusus Kamis malam kami membaca Yasin dan shalawat,” ujar Damronih yang sehari-hari menjadi guru honorer SMA untuk bidang studi Tafsir Alquran di Pondok Pesantren Darul Kholidin, Bogor. Damronih sendiri merupakan alumni Fakultas Syariah dari Damascus University di Syria.
![]() |
| Endang di tengah-tengah muridnya di Rumah Baca Akar Foto Dok IA SMPN6 90 |
Awal mula kegiatan mengajar ini kata Damronih, hanya diikuti beberapa keponakannya yang belajar mengaji Quran padanya. Tapi makin hari, makin banyak murid yang bergabung. Akhirnya, Damronih dan isterinya, Endang, berbagi peran. Damronih mengajar murid-murid pria dan Endang mengajar murid-murid perempuan. Endang tak kesulitan dalam melakukan tugas tambahan di rumahnya ini. Karena sehari-hari ibu dua anak ini juga menjadi guru agama Islam di SD Negeri 01 Gunung Sindur, Bogor.
“Kami senang bisa berbagi ilmu kami pada anak-anak di sekitar kampung ini. Apalagi banyak anak yatm dan anak putus sekolah. Saat ini, ada tujuh anak yatim yang ikut belajar dengan kami,” aku Endang yang merupakan alumni dari Fakultas Tarbiyah IAIN Sumatera Utara.
Dunia Literasi
![]() |
| Anak-anak di Rumah Baca Akar. Foto.Dok IASMPN6 90 |
Dengan bertambahnya para anak murid, Endang dan Damronih mulai mengeluarkan buku-buku koleksi mereka. Jadilah ruang teras mereka tidak hanya menjadi ruang kelas pada malam hari. Sepanjang hari teras mereka menjadi perpustakaan terbuka buat siapa saja yang mau membaca.
“Tapi karena keterbatasan koleksi buku kami, tidak semua anak-anak dapat diakomodir keinginan membacanya. Maklumlah, buku-buku koleksi kami kebanyakan buku-buku untuk anak mahasiswa. Sebagian buku berbahasa arab pula,” katanya.
![]() |
| Ketua IA SMPN6 Medan Angkatan 90 Hamzah Lubis, menyerahkan secara simbolis Iqra dan Quran pada salah satu murid di Rumah Baca Akar, 13 Mei 2017 |
“Salah satu yang membantu kami Black House Library. Dari mereka kami mendapat beberapa jaringan. Seperti akhirnya ketemu dengan teman-teman dari alumni SMP Negeri 6 Medan angkatan 90 ini. Alhamdulillah kami dipertemukan dengan kakak-kakak dan abang-abang asal SMP Negeri 6 Medan ini, sehingga terpenuhi sebagian kebutuhan kami seperti Iqra dan Quran juga buku bacaan anak-anak,” ujarnya.
Mereka juga mengucapkan terimakasih untuk bantuan sembako dan baju bekas layak pakai yang turut disumbangkan alumni SMP N 6 Medan angkatan 90. “Sembakonya akan menjadi bekal untuk kebutuhan pesantren kilat Ramadhan anak-anak nanti. Terimakasih.”
Mereka juga mengucapkan terimakasih untuk bantuan sembako dan baju bekas layak pakai yang turut disumbangkan alumni SMP N 6 Medan angkatan 90. “Sembakonya akan menjadi bekal untuk kebutuhan pesantren kilat Ramadhan anak-anak nanti. Terimakasih.”
![]() |
| Anak-anak Rumah Baca Akar. Foto Dok Rumah Baca Akar |
Impian Damronih dan Endang tak hanya sampai di situ saja. Mereka terus berusaha agar anak-anak yang mereka bina saat ini mendapat tambahan ilmu lebih banyak lagi.
“Untuk itu kami tak bisa bekerja sendirian. Dibutuhkan bantuan dan dukungan dari banyak pihak. Semoga nantinya bertambah banyak pihak yang mau membantu kami mewujudkan impian kami ini, agar anak-anak yang ada di sekitar kampung ini mendapat pengetahuan yang sama seperti anak-anak lain di luar sana, yang dimudahkan aksesnya pada dunia pendidikan,” harap mereka berdua.
Rumah Baca Akar Gunung Sindur terletak di, Kampung Cimangir RT001 RW005, Gunung Sindur, Bogor. Kawasan ini terletak sekitar 25 kilometer dari Kota Bogor.
![]() |
| Rumah Baca Akar Gunung Sindur di Kampung Cimangir RT001 RW005, Gunung Sindur, Bogor. Kawasan ini terletak sekitar 28 kilometer dari Kota Bogor. Foto.DOK IA SMPN6 90 |
15.5.17
Ayub, Pebisnis Batu-batu Mulia di Jakarta
![]() |
| Ayub di tokonya di Jatinegara. Foto.Dok Pribadi |
Sebenarnya Ayub bercita-cita menjadi tentara. Tapi darah
bisnis yang mengalir di tubuhnya lebih banyak. Ayahnya seorang pedagang
alat-alat olahraga di kawasan Kesawan Medan. Tak heran jika Ayub sudah sangat
dekat dengan dunia bisnis sejak kecil.
![]() |
| Yellow Safir asal Srilangka. Foto Dok.pribadi |
Batu-batu mulia yang dijual Ayub sangat beragam. Mulai dari
batu-batu asal Indonesia seperti kecubung dan mutiara, sampai batu zamrud dari
Colombia. Ada juga cat eyes, blue safir, dan yellow safir dari Srilanka, rubi
pinkis dari Tanzania, sampai batu turmalin dari Afganistan. Batu-batu mulia ini
harganya variatif, tergantung tingkat keunikan masing-masing batu. Mulai dari
ratusan ribu sampai miliaran rupiah.
![]() |
| Mutiara asal Lombok. Foto.Dok Pribadi |
Menjaga Kepercayaan
Dalam bisnis batu-batu mulia ini menurut Ayub, kepercayaan
merupakan jurus nomor satu dari semua jurus dagang. Pasalnya, kadang-kadang ada batu
titipan teman yang minta dijualkan. Selain itu juga, kejujuran kepada para konsumen
tentang kondisi dan identitas batu sangatlah penting.
“Untuk membedakan mana batu asli dan tidak asli atau yang
lebih sering dikenal dengan nama kw sangat sulit saat ini. Karena Thailand sangat
maju dalam pembuatan batu-batu sintetis. Karena itu, untuk batu-batu mulia di
toko kami, dilampiri dengan sertifikat keaslian yang dikeluarkan lembaga resmi,”
tuturnya.
Sukses ya pak!
1.5.17
Yudriani, Ibu Dari Hampir Seratusan Anak
Tsunami yang menghumbalang Aceh 26 Desember 2004 silam tidak hanya menghancurkan rumah yang baru dibangun Yudriani Mahyuddin, bersama suami tercinta. Tapi juga merengut anak bungsunya yang ketika itu baru berusia dua tahun. Akan tetapi, tiap-tiap kejadian acap memiliki hikmah. Kini, perempuan yang sudah menetap 24 tahun di Banda Aceh itu, diberi berkah dengan mendidik hampir seratusan anak usia Taman Kanak-kanak (TK).
Diceritakan perempuan yang disapa Yuyun ini, dirinya mulai hijrah ke Banda Aceh ketika melanjutkan studi di perguruan tinggi. Di tanah rencong inilah kemudian perempuan kelahiran Lhoksukon, Aceh Utara pada 2 Juni 1974 ini bertemu jodohnya- yang juga kebetulan orang Medan.
Pascareformasi dan menjelang awal tahun 2000, konflik vertikal di Aceh kembali memanas. "Tapi karena rezeki kami di Aceh ini, kami tetap tinggal di Aceh meski situasi sangat tidak menentu. Sampai anakku sudah tahu kalau dengar suara tembakan senjata harus tiarap," kenang Yuyun. Hari demi hari dijalani sampai akhirnya situasi pelan-pelan mulai membaik. Bahkan dengan rezeki yang ada, Yuyun dan suami mulai membangun rumah di Banda Aceh. Di rumah mereka, Yuyun bersama suami dan dua anaknya menjalani hari-hari yang membahagiakan.
Sampai di suatu Minggu pagi, 26 Desember 2004, gempa berkekuatan 9,1 SR mengguncang Banda Aceh.
"Ketika itu aku baru membuat sarapan untuk anak-anak. Setelah gempa tidak berapa lama air laut menerjang kawasan tempat kami tinggal. Aku dan anak sulungku terlempar diterjang air. Sedangkan anak bungsuku digendong suamiku, mereka tergulung air," kisah Yuyun.
Yuyun dan suaminya sempat terpisah. Dan ketika mereka bertemu, si bungsu sudah tidak ada lagi dalam gendongan suami. "Kami sudah mencari kemana-mana. Tapi tidak ketemu juga. Suamiku bahkan sempat menjadi sukarelawan agar tetap dapat mencari anak kami. Sementara aku untuk sementara pindah ke Medan dengan si sulung," ujarnya.
Tapi pengalaman becana alam yang maha dahsyat tak membuat Yuyun trauma akan tanah kelahiran anak-anaknya itu. Dengan tekad bulat setelah wara wiri dua tahun Medan-Banda Aceh, Yuyun kembali menetap di Banda Aceh. Selain mendampingi suami yang bertugas, Yuyun dan suami kembali membangun rumah di lokasi yang sama dengan rumah yang pernah diratakan gelombang tsunami. "Kami mendapat rumah bantuan. Jadi kami kembali ke lokasi rumah semula. Rumah yang diterjang tsunami. Dan tak lama setelah itu, kami bertemu dengan keluarga yang pernah menjadi tetangga sewaktu sebelum tsunami," lanjutnya.
Dari cerita tetangganya inilah akhirnya Yuyun dan suaminya tahu kalau anak bungsu mereka sudah tiada sesaat setelah tsunami melanda Aceh."Tapi karena waktu itu suasana sangat kacau, mereka tidak tahu menghubungi kami kemana. Jadi jenazah si bungsu dibawa ke kuburan massal. Tapi akhirnya kami sudah tahu, dan sudah benar-benar ikhlas," katanya.
Terjun Ke Dunia Pendidikan
Gelombang tsunami boleh saja merengut anak bungsu Yuyun, tapi tidak dengan semangatnya. Tsunami telah membuka banyak jalan bagi mereka yang mau berusaha. Di sela-sela mengurus si sulung, Yuyun kemudian terlibat dalam proses belajar mengajar di salah satu palang merah internasional yang mengelola Taman Kanak-kanak bagi anak-anak pekerja asing- yang banyak tinggal di Aceh pascatsunami. Inilah awal mula Yuyun berkecimpung di dunia pendidikan. Dengan dukungan penuh keluarganya,Yuyun kembali ke bangku kuliah dengan mengambil jurusan pendidikan untuk menambah ilmunya.
Setelah merasa cukup ilmu dan akses ke bidang pendidikan, akhirnya Yuyun memberanikan diri membuka sekolah Taman Kanak-kanak Twinkle Kids Preschool di Banda Aceh, yang terletak di Jalan Masjid Alhuda no.53 Kampung Laksana, Banda Aceh. Sekolah ini didirikannya bersama beberapa rekannya pada tahun 2011. Kini, Yuyun bukan saja menjadi guru bagi anak-anak TK yang dikelolanya, tetapi juga merangkap Ketua Yayasan.
"Dengan mengajar , aku merasa bisa menyalurkan kasih sayangku buat anak-anak. Saat ini sedikitnya ada 96 anak-anak dengan lima belas orang guru. Satu guru untuk lima anak. Awalnya sekolah ini dimulai dengan tiga orang murid dan tiga orang guru. Alhamdulillah, teman-teman yang membantuku luar biasa sekali. Aku punya teman-teman yang hebat. Lebih dari enam bulan kami kelola sekolah dengan tidak ada gaji sampai akhirnya seperti sekarang ini," terang Yuyun.
Pengalaman hidup Yuyun telah mengajarkan padanya bahwa jika sudah takdir menyapa, tidak ada yang bisa dilakukan selain tawakkal, ikhlas dan tetap berusaha. "Jangan menyerah, tetap berusaha dan menjalani hidup dengan apa adanya," ungkap Yuyun di akhir pembicaraan.
Sukses ya bu!
Diceritakan perempuan yang disapa Yuyun ini, dirinya mulai hijrah ke Banda Aceh ketika melanjutkan studi di perguruan tinggi. Di tanah rencong inilah kemudian perempuan kelahiran Lhoksukon, Aceh Utara pada 2 Juni 1974 ini bertemu jodohnya- yang juga kebetulan orang Medan.
![]() |
| Yuyun bersama suami dan anaknya. Foto.Dok.Pribadi |
Pascareformasi dan menjelang awal tahun 2000, konflik vertikal di Aceh kembali memanas. "Tapi karena rezeki kami di Aceh ini, kami tetap tinggal di Aceh meski situasi sangat tidak menentu. Sampai anakku sudah tahu kalau dengar suara tembakan senjata harus tiarap," kenang Yuyun. Hari demi hari dijalani sampai akhirnya situasi pelan-pelan mulai membaik. Bahkan dengan rezeki yang ada, Yuyun dan suami mulai membangun rumah di Banda Aceh. Di rumah mereka, Yuyun bersama suami dan dua anaknya menjalani hari-hari yang membahagiakan.
Sampai di suatu Minggu pagi, 26 Desember 2004, gempa berkekuatan 9,1 SR mengguncang Banda Aceh.
"Ketika itu aku baru membuat sarapan untuk anak-anak. Setelah gempa tidak berapa lama air laut menerjang kawasan tempat kami tinggal. Aku dan anak sulungku terlempar diterjang air. Sedangkan anak bungsuku digendong suamiku, mereka tergulung air," kisah Yuyun.
Yuyun dan suaminya sempat terpisah. Dan ketika mereka bertemu, si bungsu sudah tidak ada lagi dalam gendongan suami. "Kami sudah mencari kemana-mana. Tapi tidak ketemu juga. Suamiku bahkan sempat menjadi sukarelawan agar tetap dapat mencari anak kami. Sementara aku untuk sementara pindah ke Medan dengan si sulung," ujarnya.
Tapi pengalaman becana alam yang maha dahsyat tak membuat Yuyun trauma akan tanah kelahiran anak-anaknya itu. Dengan tekad bulat setelah wara wiri dua tahun Medan-Banda Aceh, Yuyun kembali menetap di Banda Aceh. Selain mendampingi suami yang bertugas, Yuyun dan suami kembali membangun rumah di lokasi yang sama dengan rumah yang pernah diratakan gelombang tsunami. "Kami mendapat rumah bantuan. Jadi kami kembali ke lokasi rumah semula. Rumah yang diterjang tsunami. Dan tak lama setelah itu, kami bertemu dengan keluarga yang pernah menjadi tetangga sewaktu sebelum tsunami," lanjutnya.
Dari cerita tetangganya inilah akhirnya Yuyun dan suaminya tahu kalau anak bungsu mereka sudah tiada sesaat setelah tsunami melanda Aceh."Tapi karena waktu itu suasana sangat kacau, mereka tidak tahu menghubungi kami kemana. Jadi jenazah si bungsu dibawa ke kuburan massal. Tapi akhirnya kami sudah tahu, dan sudah benar-benar ikhlas," katanya.
Terjun Ke Dunia Pendidikan
Gelombang tsunami boleh saja merengut anak bungsu Yuyun, tapi tidak dengan semangatnya. Tsunami telah membuka banyak jalan bagi mereka yang mau berusaha. Di sela-sela mengurus si sulung, Yuyun kemudian terlibat dalam proses belajar mengajar di salah satu palang merah internasional yang mengelola Taman Kanak-kanak bagi anak-anak pekerja asing- yang banyak tinggal di Aceh pascatsunami. Inilah awal mula Yuyun berkecimpung di dunia pendidikan. Dengan dukungan penuh keluarganya,Yuyun kembali ke bangku kuliah dengan mengambil jurusan pendidikan untuk menambah ilmunya.
![]() |
| Aktifitas Yuyun bersama anak didiknya. Foto.Dok.Pribadi |
"Dengan mengajar , aku merasa bisa menyalurkan kasih sayangku buat anak-anak. Saat ini sedikitnya ada 96 anak-anak dengan lima belas orang guru. Satu guru untuk lima anak. Awalnya sekolah ini dimulai dengan tiga orang murid dan tiga orang guru. Alhamdulillah, teman-teman yang membantuku luar biasa sekali. Aku punya teman-teman yang hebat. Lebih dari enam bulan kami kelola sekolah dengan tidak ada gaji sampai akhirnya seperti sekarang ini," terang Yuyun.
![]() |
| Yuyun di depan sekolah yang didirikannya. Foto.Dok Pribadi |
Sukses ya bu!
Langganan:
Postingan (Atom)













