![]() |
| Reuni Perak Alumni SMP Negeri 6 Medan Angkatan Th. 1990 di Hotel Grand Kanaya Medan 27 Desember 2015 |
28.9.07
Home
9.6.17
Gambar Anggoa IA Berdasarkan Kelas
20.5.17
16.5.17
Rumah Baca Akar Gunung Sindur, Bogor
Mengajar Sembari Menumbuhkan Minat Baca Anak
![]() |
| Damronih sedang mengajar Bahasa Arab. Foto.Dok Rumah Baca Akar |
Berbekal ilmu yang dipunya, pasangan suami isteri Endang Nurfitri Surbakti, S.Ag, 40 tahun dan Damronih, Lc, 45 tahun, mengajar anak-anak di kampungnya. Sedikitnya, ada 50 anak usia TK dan SD yang mereka ajari saban habis Magrib- di teras rumah mereka yang berukuran sekitar 200 meter persegi. Dan untuk semua kesibukan ini, tak ada biaya yang dipungut oleh pasangan suami isteri ini- semua keperluan keluar dari kantong mereka sendiri.
“Tidak hanya mengajar membaca iqra, juzamma dan Quran saja yang kami lakukan. Tapi kami juga mengajar bahasa Arab, tajwid, fiqih, tauhid, kaligrafi dan beberapa ilmu agama lainnya. Khusus Kamis malam kami membaca Yasin dan shalawat,” ujar Damronih yang sehari-hari menjadi guru honorer SMA untuk bidang studi Tafsir Alquran di Pondok Pesantren Darul Kholidin, Bogor. Damronih sendiri merupakan alumni Fakultas Syariah dari Damascus University di Syria.
![]() |
| Endang di tengah-tengah muridnya di Rumah Baca Akar Foto Dok IA SMPN6 90 |
Awal mula kegiatan mengajar ini kata Damronih, hanya diikuti beberapa keponakannya yang belajar mengaji Quran padanya. Tapi makin hari, makin banyak murid yang bergabung. Akhirnya, Damronih dan isterinya, Endang, berbagi peran. Damronih mengajar murid-murid pria dan Endang mengajar murid-murid perempuan. Endang tak kesulitan dalam melakukan tugas tambahan di rumahnya ini. Karena sehari-hari ibu dua anak ini juga menjadi guru agama Islam di SD Negeri 01 Gunung Sindur, Bogor.
“Kami senang bisa berbagi ilmu kami pada anak-anak di sekitar kampung ini. Apalagi banyak anak yatm dan anak putus sekolah. Saat ini, ada tujuh anak yatim yang ikut belajar dengan kami,” aku Endang yang merupakan alumni dari Fakultas Tarbiyah IAIN Sumatera Utara.
Dunia Literasi
![]() |
| Anak-anak di Rumah Baca Akar. Foto.Dok IASMPN6 90 |
Dengan bertambahnya para anak murid, Endang dan Damronih mulai mengeluarkan buku-buku koleksi mereka. Jadilah ruang teras mereka tidak hanya menjadi ruang kelas pada malam hari. Sepanjang hari teras mereka menjadi perpustakaan terbuka buat siapa saja yang mau membaca.
“Tapi karena keterbatasan koleksi buku kami, tidak semua anak-anak dapat diakomodir keinginan membacanya. Maklumlah, buku-buku koleksi kami kebanyakan buku-buku untuk anak mahasiswa. Sebagian buku berbahasa arab pula,” katanya.
![]() |
| Ketua IA SMPN6 Medan Angkatan 90 Hamzah Lubis, menyerahkan secara simbolis Iqra dan Quran pada salah satu murid di Rumah Baca Akar, 13 Mei 2017 |
“Salah satu yang membantu kami Black House Library. Dari mereka kami mendapat beberapa jaringan. Seperti akhirnya ketemu dengan teman-teman dari alumni SMP Negeri 6 Medan angkatan 90 ini. Alhamdulillah kami dipertemukan dengan kakak-kakak dan abang-abang asal SMP Negeri 6 Medan ini, sehingga terpenuhi sebagian kebutuhan kami seperti Iqra dan Quran juga buku bacaan anak-anak,” ujarnya.
Mereka juga mengucapkan terimakasih untuk bantuan sembako dan baju bekas layak pakai yang turut disumbangkan alumni SMP N 6 Medan angkatan 90. “Sembakonya akan menjadi bekal untuk kebutuhan pesantren kilat Ramadhan anak-anak nanti. Terimakasih.”
Mereka juga mengucapkan terimakasih untuk bantuan sembako dan baju bekas layak pakai yang turut disumbangkan alumni SMP N 6 Medan angkatan 90. “Sembakonya akan menjadi bekal untuk kebutuhan pesantren kilat Ramadhan anak-anak nanti. Terimakasih.”
![]() |
| Anak-anak Rumah Baca Akar. Foto Dok Rumah Baca Akar |
Impian Damronih dan Endang tak hanya sampai di situ saja. Mereka terus berusaha agar anak-anak yang mereka bina saat ini mendapat tambahan ilmu lebih banyak lagi.
“Untuk itu kami tak bisa bekerja sendirian. Dibutuhkan bantuan dan dukungan dari banyak pihak. Semoga nantinya bertambah banyak pihak yang mau membantu kami mewujudkan impian kami ini, agar anak-anak yang ada di sekitar kampung ini mendapat pengetahuan yang sama seperti anak-anak lain di luar sana, yang dimudahkan aksesnya pada dunia pendidikan,” harap mereka berdua.
Rumah Baca Akar Gunung Sindur terletak di, Kampung Cimangir RT001 RW005, Gunung Sindur, Bogor. Kawasan ini terletak sekitar 25 kilometer dari Kota Bogor.
![]() |
| Rumah Baca Akar Gunung Sindur di Kampung Cimangir RT001 RW005, Gunung Sindur, Bogor. Kawasan ini terletak sekitar 28 kilometer dari Kota Bogor. Foto.DOK IA SMPN6 90 |
15.5.17
Ayub, Pebisnis Batu-batu Mulia di Jakarta
![]() |
| Ayub di tokonya di Jatinegara. Foto.Dok Pribadi |
Sebenarnya Ayub bercita-cita menjadi tentara. Tapi darah
bisnis yang mengalir di tubuhnya lebih banyak. Ayahnya seorang pedagang
alat-alat olahraga di kawasan Kesawan Medan. Tak heran jika Ayub sudah sangat
dekat dengan dunia bisnis sejak kecil.
![]() |
| Yellow Safir asal Srilangka. Foto Dok.pribadi |
Batu-batu mulia yang dijual Ayub sangat beragam. Mulai dari
batu-batu asal Indonesia seperti kecubung dan mutiara, sampai batu zamrud dari
Colombia. Ada juga cat eyes, blue safir, dan yellow safir dari Srilanka, rubi
pinkis dari Tanzania, sampai batu turmalin dari Afganistan. Batu-batu mulia ini
harganya variatif, tergantung tingkat keunikan masing-masing batu. Mulai dari
ratusan ribu sampai miliaran rupiah.
![]() |
| Mutiara asal Lombok. Foto.Dok Pribadi |
Menjaga Kepercayaan
Dalam bisnis batu-batu mulia ini menurut Ayub, kepercayaan
merupakan jurus nomor satu dari semua jurus dagang. Pasalnya, kadang-kadang ada batu
titipan teman yang minta dijualkan. Selain itu juga, kejujuran kepada para konsumen
tentang kondisi dan identitas batu sangatlah penting.
“Untuk membedakan mana batu asli dan tidak asli atau yang
lebih sering dikenal dengan nama kw sangat sulit saat ini. Karena Thailand sangat
maju dalam pembuatan batu-batu sintetis. Karena itu, untuk batu-batu mulia di
toko kami, dilampiri dengan sertifikat keaslian yang dikeluarkan lembaga resmi,”
tuturnya.
Sukses ya pak!
1.5.17
Yudriani, Ibu Dari Hampir Seratusan Anak
Tsunami yang menghumbalang Aceh 26 Desember 2004 silam tidak hanya menghancurkan rumah yang baru dibangun Yudriani Mahyuddin, bersama suami tercinta. Tapi juga merengut anak bungsunya yang ketika itu baru berusia dua tahun. Akan tetapi, tiap-tiap kejadian acap memiliki hikmah. Kini, perempuan yang sudah menetap 24 tahun di Banda Aceh itu, diberi berkah dengan mendidik hampir seratusan anak usia Taman Kanak-kanak (TK).
Diceritakan perempuan yang disapa Yuyun ini, dirinya mulai hijrah ke Banda Aceh ketika melanjutkan studi di perguruan tinggi. Di tanah rencong inilah kemudian perempuan kelahiran Lhoksukon, Aceh Utara pada 2 Juni 1974 ini bertemu jodohnya- yang juga kebetulan orang Medan.
Pascareformasi dan menjelang awal tahun 2000, konflik vertikal di Aceh kembali memanas. "Tapi karena rezeki kami di Aceh ini, kami tetap tinggal di Aceh meski situasi sangat tidak menentu. Sampai anakku sudah tahu kalau dengar suara tembakan senjata harus tiarap," kenang Yuyun. Hari demi hari dijalani sampai akhirnya situasi pelan-pelan mulai membaik. Bahkan dengan rezeki yang ada, Yuyun dan suami mulai membangun rumah di Banda Aceh. Di rumah mereka, Yuyun bersama suami dan dua anaknya menjalani hari-hari yang membahagiakan.
Sampai di suatu Minggu pagi, 26 Desember 2004, gempa berkekuatan 9,1 SR mengguncang Banda Aceh.
"Ketika itu aku baru membuat sarapan untuk anak-anak. Setelah gempa tidak berapa lama air laut menerjang kawasan tempat kami tinggal. Aku dan anak sulungku terlempar diterjang air. Sedangkan anak bungsuku digendong suamiku, mereka tergulung air," kisah Yuyun.
Yuyun dan suaminya sempat terpisah. Dan ketika mereka bertemu, si bungsu sudah tidak ada lagi dalam gendongan suami. "Kami sudah mencari kemana-mana. Tapi tidak ketemu juga. Suamiku bahkan sempat menjadi sukarelawan agar tetap dapat mencari anak kami. Sementara aku untuk sementara pindah ke Medan dengan si sulung," ujarnya.
Tapi pengalaman becana alam yang maha dahsyat tak membuat Yuyun trauma akan tanah kelahiran anak-anaknya itu. Dengan tekad bulat setelah wara wiri dua tahun Medan-Banda Aceh, Yuyun kembali menetap di Banda Aceh. Selain mendampingi suami yang bertugas, Yuyun dan suami kembali membangun rumah di lokasi yang sama dengan rumah yang pernah diratakan gelombang tsunami. "Kami mendapat rumah bantuan. Jadi kami kembali ke lokasi rumah semula. Rumah yang diterjang tsunami. Dan tak lama setelah itu, kami bertemu dengan keluarga yang pernah menjadi tetangga sewaktu sebelum tsunami," lanjutnya.
Dari cerita tetangganya inilah akhirnya Yuyun dan suaminya tahu kalau anak bungsu mereka sudah tiada sesaat setelah tsunami melanda Aceh."Tapi karena waktu itu suasana sangat kacau, mereka tidak tahu menghubungi kami kemana. Jadi jenazah si bungsu dibawa ke kuburan massal. Tapi akhirnya kami sudah tahu, dan sudah benar-benar ikhlas," katanya.
Terjun Ke Dunia Pendidikan
Gelombang tsunami boleh saja merengut anak bungsu Yuyun, tapi tidak dengan semangatnya. Tsunami telah membuka banyak jalan bagi mereka yang mau berusaha. Di sela-sela mengurus si sulung, Yuyun kemudian terlibat dalam proses belajar mengajar di salah satu palang merah internasional yang mengelola Taman Kanak-kanak bagi anak-anak pekerja asing- yang banyak tinggal di Aceh pascatsunami. Inilah awal mula Yuyun berkecimpung di dunia pendidikan. Dengan dukungan penuh keluarganya,Yuyun kembali ke bangku kuliah dengan mengambil jurusan pendidikan untuk menambah ilmunya.
Setelah merasa cukup ilmu dan akses ke bidang pendidikan, akhirnya Yuyun memberanikan diri membuka sekolah Taman Kanak-kanak Twinkle Kids Preschool di Banda Aceh, yang terletak di Jalan Masjid Alhuda no.53 Kampung Laksana, Banda Aceh. Sekolah ini didirikannya bersama beberapa rekannya pada tahun 2011. Kini, Yuyun bukan saja menjadi guru bagi anak-anak TK yang dikelolanya, tetapi juga merangkap Ketua Yayasan.
"Dengan mengajar , aku merasa bisa menyalurkan kasih sayangku buat anak-anak. Saat ini sedikitnya ada 96 anak-anak dengan lima belas orang guru. Satu guru untuk lima anak. Awalnya sekolah ini dimulai dengan tiga orang murid dan tiga orang guru. Alhamdulillah, teman-teman yang membantuku luar biasa sekali. Aku punya teman-teman yang hebat. Lebih dari enam bulan kami kelola sekolah dengan tidak ada gaji sampai akhirnya seperti sekarang ini," terang Yuyun.
Pengalaman hidup Yuyun telah mengajarkan padanya bahwa jika sudah takdir menyapa, tidak ada yang bisa dilakukan selain tawakkal, ikhlas dan tetap berusaha. "Jangan menyerah, tetap berusaha dan menjalani hidup dengan apa adanya," ungkap Yuyun di akhir pembicaraan.
Sukses ya bu!
Diceritakan perempuan yang disapa Yuyun ini, dirinya mulai hijrah ke Banda Aceh ketika melanjutkan studi di perguruan tinggi. Di tanah rencong inilah kemudian perempuan kelahiran Lhoksukon, Aceh Utara pada 2 Juni 1974 ini bertemu jodohnya- yang juga kebetulan orang Medan.
![]() |
| Yuyun bersama suami dan anaknya. Foto.Dok.Pribadi |
Pascareformasi dan menjelang awal tahun 2000, konflik vertikal di Aceh kembali memanas. "Tapi karena rezeki kami di Aceh ini, kami tetap tinggal di Aceh meski situasi sangat tidak menentu. Sampai anakku sudah tahu kalau dengar suara tembakan senjata harus tiarap," kenang Yuyun. Hari demi hari dijalani sampai akhirnya situasi pelan-pelan mulai membaik. Bahkan dengan rezeki yang ada, Yuyun dan suami mulai membangun rumah di Banda Aceh. Di rumah mereka, Yuyun bersama suami dan dua anaknya menjalani hari-hari yang membahagiakan.
Sampai di suatu Minggu pagi, 26 Desember 2004, gempa berkekuatan 9,1 SR mengguncang Banda Aceh.
"Ketika itu aku baru membuat sarapan untuk anak-anak. Setelah gempa tidak berapa lama air laut menerjang kawasan tempat kami tinggal. Aku dan anak sulungku terlempar diterjang air. Sedangkan anak bungsuku digendong suamiku, mereka tergulung air," kisah Yuyun.
Yuyun dan suaminya sempat terpisah. Dan ketika mereka bertemu, si bungsu sudah tidak ada lagi dalam gendongan suami. "Kami sudah mencari kemana-mana. Tapi tidak ketemu juga. Suamiku bahkan sempat menjadi sukarelawan agar tetap dapat mencari anak kami. Sementara aku untuk sementara pindah ke Medan dengan si sulung," ujarnya.
Tapi pengalaman becana alam yang maha dahsyat tak membuat Yuyun trauma akan tanah kelahiran anak-anaknya itu. Dengan tekad bulat setelah wara wiri dua tahun Medan-Banda Aceh, Yuyun kembali menetap di Banda Aceh. Selain mendampingi suami yang bertugas, Yuyun dan suami kembali membangun rumah di lokasi yang sama dengan rumah yang pernah diratakan gelombang tsunami. "Kami mendapat rumah bantuan. Jadi kami kembali ke lokasi rumah semula. Rumah yang diterjang tsunami. Dan tak lama setelah itu, kami bertemu dengan keluarga yang pernah menjadi tetangga sewaktu sebelum tsunami," lanjutnya.
Dari cerita tetangganya inilah akhirnya Yuyun dan suaminya tahu kalau anak bungsu mereka sudah tiada sesaat setelah tsunami melanda Aceh."Tapi karena waktu itu suasana sangat kacau, mereka tidak tahu menghubungi kami kemana. Jadi jenazah si bungsu dibawa ke kuburan massal. Tapi akhirnya kami sudah tahu, dan sudah benar-benar ikhlas," katanya.
Terjun Ke Dunia Pendidikan
Gelombang tsunami boleh saja merengut anak bungsu Yuyun, tapi tidak dengan semangatnya. Tsunami telah membuka banyak jalan bagi mereka yang mau berusaha. Di sela-sela mengurus si sulung, Yuyun kemudian terlibat dalam proses belajar mengajar di salah satu palang merah internasional yang mengelola Taman Kanak-kanak bagi anak-anak pekerja asing- yang banyak tinggal di Aceh pascatsunami. Inilah awal mula Yuyun berkecimpung di dunia pendidikan. Dengan dukungan penuh keluarganya,Yuyun kembali ke bangku kuliah dengan mengambil jurusan pendidikan untuk menambah ilmunya.
![]() |
| Aktifitas Yuyun bersama anak didiknya. Foto.Dok.Pribadi |
"Dengan mengajar , aku merasa bisa menyalurkan kasih sayangku buat anak-anak. Saat ini sedikitnya ada 96 anak-anak dengan lima belas orang guru. Satu guru untuk lima anak. Awalnya sekolah ini dimulai dengan tiga orang murid dan tiga orang guru. Alhamdulillah, teman-teman yang membantuku luar biasa sekali. Aku punya teman-teman yang hebat. Lebih dari enam bulan kami kelola sekolah dengan tidak ada gaji sampai akhirnya seperti sekarang ini," terang Yuyun.
![]() |
| Yuyun di depan sekolah yang didirikannya. Foto.Dok Pribadi |
Sukses ya bu!
27.4.17
Surya Kurniawan, Petani Pisang Barangan dari Asahan
![]() |
| Surya di tengah kebun cabainya. Foto.Dok.Pribadi |
Meski sudah bekerja menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di
Dinas Perhubungan Kabupaten Asahan sejak 2004 silam, Surya Kurniawan merasa
belum berpuas hati. Tak heran jika saban pulang kantor dan di sela-sela
kesibukannya, Surya pergi ke ladang dekat rumahnya- bertani pisang barangan,
pepaya dan juga cabai keriting.
“Sudah dua tahun ini
saya bertani pisang barangan. Ada seribu pohon. Dan alhamdulillah, pasarnya
juga sudah ada di Dumai dan Pakanbaru. Kebetulan ada lahan tidur dekat rumah, jadi
kenapa tak dimanfaatkan,” cerita bapak tiga anak ini ketika ditanya ihwal
menjadi petani.
![]() |
| Kebun Pepaya yang akan panen 8 bulan lagi. Foto.Dok.Pribadi |
Sukses dengan pisang barangan membuat Surya semakin menyukai
bertani. “Hilang setres awak kalau sudah di ladang ini. Dan kebetulan masih ada
lahan tidur walau tak pala besar kali. Jadi kita cobalah tanam pepaya dan juga
cabe keriting sekarang ini,” terang Surya yang semasa SMP kerap dipanggil
Bokir.
![]() |
| Kebun Cabai Surya. Foto.Dok.Pribadi |
Diceritakan Surya, awalnya ada temannya dari Dinas Pertanian
yang memiliki bibit cabai keriting. Berbekal bibit cabai keriting dan juga
pengetahuan bertanam cabai dari temannya ini, Surya mencoba peruntungannya.
“Walau ada juga serangan penyakit ke pohon cabe ini, tapi
cepat kita tangani dengan pestisida dan pupuk. Mudah-mudahan dalam dua minggu
ke depan panen perdana cabe ini,” harapnya.
Sukses ya pak!
26.4.17
Yenny, Sang Guru Bahasa Indonesia
Ketika kecil, Yenny Herawati bercita-cita menjadi sekretaris. Tapi ketika besar, perempuan kelahiran Medan ini malah menjadi guru Bahasa Indonesia di SMP Negeri 2 Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar, Aceh. "Mengajar itu sangat menyenangkan," katanya.
Awalnya kata Yenny -begitu kerap dia disapa- mengajar Bahasa Indonesia di SMP Negeri 2 Darul Imarah ini cukup sulit. Karena umumnya, para siswa tak begitu mau berbahasa Indonesia. Mereka lebih sering menggunakan bahasa daerah. Tapi sebagai seorang guru, Yenny pantang menyerah. Pelan-pelan Yenny berusaha mempelajari bahasa Aceh, sehingga meski tidak terlalu fasih, Yenny dapat berkomunikasi dalam bahasa daerah dengan para anak didiknya- yang umumnya merupakan anak petani . Sampai pada akhirnya, Yenny bukan saja berkomunikasi dalam urusan mengajar, Yenny juga sering mengobrol dengan para siswanya mengenai hal-hal lain di luar bidang studi yang diajarkannya.
"Saya suka mengobrol dengan siswa-siswa saya. Mereka polos-polos. Jauh dari prasangka. Saya jadi suka mengobrol apa saja dengan mereka," ungkapnya. Mengobrol tentang hal apa saja dengan siswanya membuat ibu dua anak ini merasa lebih dekat dan lebih mengenal siswa-siswanya. "Jadi tambah sayang ke mereka. Karena komunikasi yang kami bangun bersama. Saya berusaha memahami mereka," lanjut Yenny yang hijrah ke Aceh sejak tahun 2000 mengikuti tugas sang suami yang seorang tentara.
Tapi tantangan Yenny sebagai guru di Aceh tak hanya sampai di situ. Kondisi Aceh pascakonflik dan tsunami sedikit banyak mempengaruhi kondisi belajar mengajar. Tapi akhirnya, tantangan demi tantangan yang datang silih berganti dapat dilalui dan diatasi dengan baik oleh perempuan yang lahir pada 23 Juni 1974 ini.
"Saya mencintai profesi ini. Jadi saya jalani dengan ikhlas dan tawakkal. Karena semua persoalan pasti ada jalan keluarnya. Mudah-mudahan dari apa yang saya lakukan sekarang, tidak hanya anak dan kelaurga saya saja yang sukses. Tetapi juga anak-anak didik saya," harapnya.
Kini, setelah belasan tahun menjadi guru, tidak ada kesulitan yang cukup berarti buat Yenny dalam mengatur waktu. Keluarga baginya tetap nomor satu. Sebelum berangkat, Yenny menyempatkan diri memasak dan usai mengajar dirinya akan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah yang belum selesai dilakukannya pada pagi hari.
"Meski saya seorang guru. Saya juga seorang isteri dan ibu bagi anak-anak saya. Kalau di sekolah anak saya ada 50-an. Di rumah hanya dua, Tidak mudah memang membagi waktu. Tapi sepanjang kita mencintai profesi kita, apapun itu, mudah-mudahan semuanya dapat kita jalani," katanya sembari menutup pembicaraan.
Sukses ya bu guru :)
Awalnya kata Yenny -begitu kerap dia disapa- mengajar Bahasa Indonesia di SMP Negeri 2 Darul Imarah ini cukup sulit. Karena umumnya, para siswa tak begitu mau berbahasa Indonesia. Mereka lebih sering menggunakan bahasa daerah. Tapi sebagai seorang guru, Yenny pantang menyerah. Pelan-pelan Yenny berusaha mempelajari bahasa Aceh, sehingga meski tidak terlalu fasih, Yenny dapat berkomunikasi dalam bahasa daerah dengan para anak didiknya- yang umumnya merupakan anak petani . Sampai pada akhirnya, Yenny bukan saja berkomunikasi dalam urusan mengajar, Yenny juga sering mengobrol dengan para siswanya mengenai hal-hal lain di luar bidang studi yang diajarkannya.
![]() |
| Yenny bersama buah hatinya. Foto: Dok.Pribadi |
Tapi tantangan Yenny sebagai guru di Aceh tak hanya sampai di situ. Kondisi Aceh pascakonflik dan tsunami sedikit banyak mempengaruhi kondisi belajar mengajar. Tapi akhirnya, tantangan demi tantangan yang datang silih berganti dapat dilalui dan diatasi dengan baik oleh perempuan yang lahir pada 23 Juni 1974 ini.
"Saya mencintai profesi ini. Jadi saya jalani dengan ikhlas dan tawakkal. Karena semua persoalan pasti ada jalan keluarnya. Mudah-mudahan dari apa yang saya lakukan sekarang, tidak hanya anak dan kelaurga saya saja yang sukses. Tetapi juga anak-anak didik saya," harapnya.
Kini, setelah belasan tahun menjadi guru, tidak ada kesulitan yang cukup berarti buat Yenny dalam mengatur waktu. Keluarga baginya tetap nomor satu. Sebelum berangkat, Yenny menyempatkan diri memasak dan usai mengajar dirinya akan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah yang belum selesai dilakukannya pada pagi hari.
"Meski saya seorang guru. Saya juga seorang isteri dan ibu bagi anak-anak saya. Kalau di sekolah anak saya ada 50-an. Di rumah hanya dua, Tidak mudah memang membagi waktu. Tapi sepanjang kita mencintai profesi kita, apapun itu, mudah-mudahan semuanya dapat kita jalani," katanya sembari menutup pembicaraan.
Sukses ya bu guru :)
25.4.17
Silaturahmi Alumni Se-Jabodetabek dan Jawa
Silaturahmi katanya memanjangkan umur dan membukakan pintu rezeki.
Karena itu, alumni SMP Negeri 6 Medan angkatan 90 yang berada di seputaran
Jabodetabek dan juga Jawa, menggelar silaturahmi di kediaman Nur
Raihan Lubis di Bogor, Jawa Barat, Minggu, 23 April 2017.
Pertemuan ini sungguh
menggembirakan. Karena silaturahmi tak hanya terjalin antara para sahabat sesame
alumni, tapi juga anak-anak yang diajak ikut serta, turut memeriahkan anjangsana ini. Tak hanya para orang tua yang kemudian saling sapa dan kenal, anak-anak
juga jadi menambah teman. Begitulah sejatinya silaturahmi- saling mengenal,
menambah saudara dan mendekatkan satu sama lain.
Para sahabat yang hadir di acara ini, Poppy Sartika (Depok), Winda
Desiana (Jakarta), M Amin Nasution (Jakarta), Fitriadi Faisal (Depok), Surya Bastian (Bekasi), Sayubdin (Jakarta), Soleh
Widianto (Cileungsi), Hamzah (Jakarta), Lina Elvriana Rangkuti (Cilegon), Irni Azlyna (Bekasi) dan Eengsyah (Jakarta).
Lina
Elvirana Rangkuti yang datang bersama keluarga dari Cilegon, merupakan sahabat yang datang paling jauh ke lokasi acara. Perjalanan membutuhkan 4 jam. Sesuatu yang membahagiakan bagi kita semua. Karena jarak menjadi tidak masalah ketika ingin bersilaturahmi.
Mudah-mudahan, silaturahmi seperti ini dapat terus berjalan dan terjaga. Terimakasih untuk hari yang menyenangkan. Terimakasih untuk kehadirannya ya para sahabat.
Mudah-mudahan, silaturahmi seperti ini dapat terus berjalan dan terjaga. Terimakasih untuk hari yang menyenangkan. Terimakasih untuk kehadirannya ya para sahabat.
14.4.17
Kegiatan
>> Sekretariat
>> Foto Kegiatan Reuni Akbar Angkatan 1990
>> Foto Kegiatan Sumatera Utara
>> Foto Kegiatan Aceh
>> Foto Kegiatan Riau dan Kepri
>> Foto Kegiatan Jabodetabek
13.4.17
Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga
M U K A D
D
I M A H
Bahwa kenangan saat masih di Sekolah Menengah Pertama Negeri 6 Medan dari
kisaran tahun 1987 sampai dengan tahun 1990 telah menimbulkan kesan bagi
para Alumninya. Dan segala kenangan pertemanan itu dipandang perlu dipupuk
terus hingga saat ini demi kebaikan dan kesejahteraan bersama.
Menonaktifkan Auto Download WA
9.4.17
7.4.17
Aturan Postingan
Berikut ini aturan posting di blog: smp690.blogspot.co.id
A. Isi Posting
- Harus bermanfaat bagi kepentingan bersama.
- Berikan judul yang jelas dan sesuai dengan isi posting.
- Pilih kategori yang paling sesuai dengan isi posting.
- Bila memungkinkan, sertakan gambar pendukung. Dimensi gambar jangan terlalu besar atau terlalu kecil.
- Dilarang kopi-paste dari dan ke manapun, termasuk dari dan ke blog pribadi (double posting) Semua tulisan yang diposting di blog ini haruslah merupakan karya orisinil dan ditulis ekslusif untuk blog ini. (Kecuali kopi-paste kutipan/Quote)
B. Bahasa
- Gunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar atau BAHASA ala MEDAN.
- Bahasa asing ditulis miring/italic
- Tidak diperkenankan menulis dengan “bahasa SMS” (disingkat-singkat)
- Perhatikan besar-kecil huruf. Gunakan seperlunya!
- Lebih baik tidak menggunakan atribut agama manapun, demi menjaga toleransi dengan anggota lain yang beragam agamanya
C. Cara Kirim Tulisan
- Silahkan daftar di sini, kemudian lengkapi profil dan data diri yang ada.
- Jika tidak ingin repot mendaftar, kirimkan tulisan dalam format .doc ke alamat email: smp690medan@gmail.com
D. Lain-lain
Hal-hal yang belum tercantum dalam ketentuan ini akan ditambahkan kemudian jika diperlukan
Medan, 07 April 2017
ttd,
Admin smp690medan.blogspot.co.id
Langganan:
Postingan (Atom)



































